“Tijarotan Lan Tabur”: Membaca Al-Qur’an Sebagai Perdagangan yang Tak Pernah Merugi
Gambar Oleh : eSWe Sidi denga AI
Karang Macanan – Ahad malam (20/7/2025), suasana Musholla Al-Ikhlas Karang Macanan terasa hangat oleh cahaya ilmu dan iman. Jamaah Muhammadiyah Ranting Pendowoharjo Timur kembali menggelar pengajian rutin Malam Senin.
Hadir sebagai narasumber Dr. Marsudi Iman dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang menyampaikan tema istimewa: Tijarotan Lan Tabur, sebuah istilah dari Al-Qur’an tentang perniagaan yang tidak pernah merugi.
Tiga Amalan Utama “Tijarotan Lan Tabur”
Menurut Pak Marsudi, Allah menawarkan bentuk “perdagangan” yang tak akan rugi dalam QS. Fatir ayat 29: membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan menafkahkan/infak sebagian rezeki di jalan Allah. “Ini bukan investasi dunia, tapi investasi akhirat yang keuntungannya dijamin langsung oleh Allah,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan lebih dalam mengenai infak dan sedekah. Infak selalu berwujud harta, sedangkan sedekah lebih luas, mencakup kebaikan dalam bentuk non-materi seperti senyum, nasihat, atau tenaga. Kedua amalan ini dapat dilakukan baik secara diam-diam maupun terbuka, tergantung niat dan maslahatnya.
“Diam-diam itu untuk menjauhkan diri dari penyakit hati: sum’ah, riya’, ujub, dan takabur,” jelasnya. Namun di sisi lain, infak terang-terangan juga sah dan bermanfaat untuk syiar dan transparansi, seperti dalam laporan penggunaan dana sosial.
Syiar Bukan Pamer
Pak Marsudi mengajak jamaah untuk berbaik sangka kepada orang-orang yang mengunggah kegiatan infak atau ibadahnya di media sosial. “Jangan cepat menuduh pamer. Bisa jadi itu bentuk dakwah dan inspirasi kebaikan,” tegasnya.
Ia mengajak hadirin untuk membudayakan husnuzan atau prasangka baik, serta tidak mudah meremehkan amalan orang lain, termasuk amalan yang tampak “biasa” seperti membaca Al-Qur’an.
Tiga Level Membaca Al-Qur’an
Salah satu inti tausiyah Pak Marsudi adalah pentingnya membiasakan diri membaca Al-Qur’an, yang merupakan bentuk tijarotan lan tabur paling mudah dijangkau semua orang. Beliau mengurai tiga level dalam membaca Al-Qur’an:
Tartil – Membaca dengan baik dan benar, sesuai kaidah tajwid.
Qira’ah – Membaca sambil memahami isi dan pesan ayat.
Tilawah – Membaca dengan kedalaman makna dan komitmen untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan.
“Tilawah adalah level tertinggi. Tilawah bukan hanya membaca, tapi juga menjadi Al-Qur’an yang berjalan,” ujarnya mengutip konsep dari para ulama.
Pak Marsudi juga menekankan pentingnya membaca Al-Qur’an dalam setiap majelis taklim. “Majelis ilmu akan penuh keberkahan bila diawali dengan membaca Al-Qur’an, memuji Allah, dan bershalawat,” ucapnya.
Silaturahim Tetap Utama di Era Digital
Meski kini tersedia banyak pengajian daring, beliau menekankan pentingnya hadir langsung di majelis taklim. “Silaturahim itu tidak bisa tergantikan. Di situlah keberkahan dan doa para malaikat tercurah,” ujarnya memberi semangat pada jamaah untuk istiqomah hadir di pengajian.
Pak Marsudi menutup kajian dengan mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an itu tidak pernah sia-sia. Bahkan, satu huruf akan dibalas sepuluh kebaikan, sebagaimana ditegaskan dalam hadist Nabi. Karena itu, jangan pernah meremehkan aktivitas membaca Al-Qur’an, meski belum memahami seluruh maknanya.
Sholawat dan Musik: Asal Tidak Menjerumuskan
Menanggapi fenomena sholawat yang diiringi musik, Pak Marsudi menjelaskan bahwa menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah, hal itu diperbolehkan selama tidak mengandung unsur maksiat. Musik bisa menjadi sarana dakwah yang efektif, asalkan tetap menjaga adab, estetika, dan substansi syariat.
Menutup dengan Refleksi
“Kalau jargon Muhammadiyah adalah Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka mari kita ukur diri kita: sudahkah kita memahami, mencintai, dan mengamalkan isi Al-Qur’an?” ujar Pak Marsudi menantang hadirin untuk refleksi.
Pengajian malam itu ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam tentang urgensi menjaga hubungan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber pahala tak bertepi.
Dicatet sambil menikmati teh anget dan snack
oleh : Yudha Kurniawan
