Syukur yang Menghidupkan Hati
(Catatan Pengajian Ahad Pahing Muhammadiyah Ranting Pendowoharjo Timur)
Gambar Oleh : eSWe Sidi, dengan AI
Bandung Kulon – Suasana Musholla Al Jannah, Ahad Pahing (3/8/2025), terasa hangat sejak pagi. Jamaah dari berbagai penjuru Pendowoharjo Timur sudah memenuhi ruang utama musholla dan di halaman, bersiap mendengarkan tausyiyah dari Ustadz Sukirman, atau yang akrab disapa Pak Kirman.Mengawali tausyiyahnya, Pak Kirman membacakan Qur’an Surah Ibrahim ayat 7 :
wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd
Artinya :(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”Pak Kirman menegaskan, ayat ini bukan sekadar pengingat, tetapi peringatan langsung dari Allah SWT. “Banyak dari kita sehat bertahun-tahun, tapi lupa bersyukur. Begitu sakit lima hari saja, mengeluh tiada henti,” ujarnya, disambut anggukan jamaah. Hal ini karena manusia bila diberi nikmat sering lupa, tapi saat diberi musibah mengeluh.
Menurutnya, orang yang bersyukur akan selalu berfastabiqul khoirat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan memperbanyak dzikir seperti membaca Alhamdulillah. Syukur juga diwujudkan dengan doa, agar tetap istiqamah dalam kebaikan, serta memohon anak keturunan yang shalih dan memakmurkan masjid. “Anak yang cinta Qur’an akan menerangi kubur orang tuanya,” imbuhnya.
Pak Kirman menjelaskan sikap dan perilaku orang yang selalu bersyukur antara lain :
- Selalu memperbanyak kebaikan atau berfastabiqul khoirat.
Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang akan dibalas Allah berlipat-lipat, salah satunya diberikan ampunan atas dosa kita. Bahkan ada ungkapan bahwa sekali duduk di majelis taklim akan menggugurkan dosa sebanyak buih di lautan. Maka penting bagi kita untuk rajin menghadiri majelis taklim karena banyak kebaikan yang akan diperoleh.
- Selain berupaya untuk berbuat baik, dalam mengungkapkan rasa Syukur kita tidak boleh lupa untuk memperbanyak membaca Alhamdulillah.
- Selalu berdoa memohon diberi sikap istiqomah, agar kita dimudahkan untuk melestarikan perbuatan baik serta menjalankan perintah-perintah Allah SWT.
- Selalu berdoa agar anak-anak keturunan kita sholih, selalu memelihara masjid dan musholla, lisannya penuh dzikir, gemar berinfaq shodaqoh, beramal Sholih. Dengan demikian kubur orang tuanya akan luas, karena anak-anak yang sholih sholihah cinta Al Qur’an akan menerangi kubur orang tuanya.
Menjaga dari Matinya Hati
Perilaku dalam mengimplementasikan rasa syukur kepada Allah SWT sangat mendukung proyek besar kita sebagai manusia dalam meraih khusnul khotimah. Perilaku ini harus terus dibudidayakan dalam rangka memelihara hati kita agar tidak mati. Tanda tanda hati yang mati antara lain :Pertama, mulai meremehkan sholat 5 waktu, hal ini sudah masuk kategori melalaikan sholat. Tanda-tandanya antara lain :
- Melalaikan waktunya, tidak segera shalat padahal sholat wajib yang terbaik dilaksanakan di awal waktunya. Maka sebaiknya siapapun kita harus sempatkan menghentikan aktivitas apapun untuk sholat di awal waktu.
- Melalaikan sholat wajib dengan tidak berjamaah. Hal ini disebabkan oleh hawa nafsu yang menganggap sholat adalah beban, serta tidak memahami makna bacaan sholat.
- Melalaikan sholat wajib dengan tidak memprioritaskan tempat terbaiknya di masjid. Sholat di masjid, terutama sholat berjamaah, memiliki keutamaan yang besar dalam Islam, dan beberapa amalan sholat bahkan dijanjikan pahala setara haji dan umroh. Salat berjamaah di masjid memiliki pahala 27 kali lipat dibandingkan sholat sendirian, dan jika dilakukan secara konsisten, bisa mendapatkan pahala seperti haji. Selain itu, sholat dhuha di masjid juga dijanjikan pahala setara umroh.
Kedua, malas membaca Al Qur’an. Padahal ngaji adalah perkara penuh manfaat. Selain itu ngaji tidak perlu dirasakan sebagai beban karena apabila mengalami kesulitan belajar dalam mengucapkan dengan benar tidak masalah, sebisanya tapi harus diusahakan.
Ketiga, merasa biasa-biasa saja tanpa ada beban setiap melanggar aturan Allah dan bermaksiat. Perlu diingat bahwa tanda beriman itu saat melanggar aturan Allah hatinya merasa tidak tenang.
Keempat, hati yang mati biasanya suka ghibah, serta panjang angan angan.
Kelima, hati yang mati cenderung acuh dan tidak ada empati melihat penderitaan orang lain.
7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Menariknya, Pak Kirman mengaitkan materi pengajian dengan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang diluncurkan oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Menurutnya, semua kebiasaan ini sejalan dengan ajaran Islam dan berfungsi menjaga hati agar tetap hidup.
“Sebenarnya itu perintah agama Islam yang dikemas dalam bahasa nacional, “ujarnya.
Menurut beliau Pak Abdul Mu’ti ingin membentuk generasi Indonesia yang cerdas sehat berkarakter, maka hatinya anak-anak kita harus dijaga supaya tidak mati. Kebiasaan itu meliputi :
- Pertama adalah bangun pagi, yang dalam kacamata agama kebiasaan ini baik karena pagi hari adalah sumber dari waktu yang tepat untuk memulai menuntut ilmu dan mencari rejeki.
- Apabila bangun pagi seseorang hanya memikirkan dunia, maka akan ditimpa kebingungan karena orientasinya sibuk tapi hakikatnya tidak ada tujuannya. Maka kebiasaan kedua anak Indonesia hebat adalah beribadah. Kebiasaan ini menanamkan kesadaran sejak dini akan hakikat manusia untuk selalu mengingat Tuhannya, sehingga sepak terjangnya sepanjang hari terjaga dari maksiat.
- Kebiasaan ketiga adalah berolahraga, hal ini ini juga perintah agama agar kita mendidik anak dengan memanah, berenang, dan berkuda. Olahraga ini membuat anak bugar sekaligus melatih konsentrasi yang mendukung aktifitas belajar, ngaji, dan bekerja secara istiqomah. Pembiasaan berolahraga juga melatih kesadaran sejak dini untuk memiliki kesadaran literasi gerak dalam rangka mensyukuri nikmat ragawi kita. Dengan demikian kita terhindar dari penyakit-penyakit yang timbul karena malas bergerak (mager).
- Kebiasaan keempat adalah makan sehat dan bergizi. Makan yang halal dan thoyib itu perintah agama. Islam itu mengajarkan agar makan minum yang halal, serta harus bergizi lengkap dan diolah dengan bersih dan higienis. Anak-anak kita harus dibiasakan doyan berbagai makanan yang menjadi sumber gizi lengkap. Sementara problema masyarakat Indonesia, anak-anaknya hanya gemar fast food dan chiki-chikinan. Soal makanan memang harus dibereskan, halal dan bergizi akan membangun generasi yang tumbuh sehat jasmani dan hatinya tidak mati.
- Kebiasaan kelima adalah gemar belajar. Tidak hanya secara formal di sekolah, anak-anak kita harus dibiasakan belajar di manapun. Ini perintah agama, ayat pertama Quran adalah perintah membaca, zaman sekarang disebut gerakan literasi. Ingin sukses di Dunia harus menguasai ilmu, ingin selamat di akherat juga ada ilmunya, semua itu syaratnya gemar belajar. Seseorang yang malas belajar, akan picik pemikiran dan buta hatinya karena menutup diri dari ilmu.
- Kebiasaan keenam adalah bermasyarakat. Sholat dianjurkan dan diutamakan dengan berjamaah, bukan sendirian. Dengan demikian Islam mengajarkan agar anak-anak kita sejak dini ditanamkan kesadaran bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi dan bergaul dengan baik mendukung kesuksesan hidup. Selain itu akan menjaga hati tidak mati karena sadar karena dipupuk memiliki empati kepada keadaan lingkungan dan orang lain.
- Kebiasaan ketujuh adalah tidur cepat. Islam mengajarkan manusia berperilaku hidup dari bangun tidur sampai akan tidur lagi. Mengapa Islam perlu mengatur soal tidur kita? Karena hal ini bagian dari memelihara hati agar tidak mati, dengan mensyukuri nikmat menjaga ragawi kita melalui istirahat yang cukup. Kurang tidur akan membuat tubuh kurang fit, buktinya tidak ada atlet yang disiapkan bertanding di Sea Games tiap malam begadangan di angkringan. Sebelum tidur dan saat bangun dari tidur juga harus berdoa, di sini anak-anak kita dibiasakan ingat Allah SWT dalam keadaan apapun.
“Kalau tujuh kebiasaan ini dibiasakan sejak kecil, insyaAllah anak-anak kita sehat, cerdas, berkarakter, dan hatinya tidak mati,” tutup Pak Kirman.
Pengajian pagi itu pun berakhir dengan suasana hangat. Jamaah pulang membawa pesan sederhana namun mendalam: syukur itu bukan sekadar ucapan, tapi laku hidup yang menghidupkan hati.
Dicatet ala kadarnya sambil ngeteh nasgitel oleh :
Yudha Kurniawan
