Cerpen : YU MIMIN NGAKU MISKIN
Cerpen ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, September 2024. Cerpen ini muncul terinspirasi oleh fenomena banyaknya orang mengaku miskin demi memperoleh bantuan pemerintah berupa BLT, dan sebagainya. Cerita versi bahasa Jawa telah dimuat di Majalah Djaka Lodang. Ilustrasi dibuat oleh eSWe Sidi, menggunakan AI. Selamat menikmati, karya Anda kami tunggu. (Admin)
YU MIMIN NGAKU MISKIN
eSWe Sidi
“Mau ke mana, Yu?” tanya Jinem kepada Yu Mimin, janda kaya bakul ratengan itu.
“Mau ambil bantuan di kelurahan. Ini undangannya!”
“Jabang bayi. Yu…kalau ambil bantuan jangan berhias menor-menor begitu. Seperti orang mau kondangan saja. Cie, cie pake kalung dan cincin juga, duh! Belum tahu, ya? Baru sekali ini, sih!”
“Memangnya, kenapa?”
“Ha,ha,ha….Ambil bantuan itu, penampilannya jangan begitu! Harus menunjukkan diri sebagai orang miskin. Jangan berlagak kaya begitu! Kalau seperti itu, di kelurahan nanti Yu Mimin menjadi bahan olok-olok orang. Yu Mimin akan ditertawakan bahkan diledek oleh orang-orang yang asli miskin!”
“Oh, gitu, ya?” ujar Yu Mimin benar-benar bermuka bego,”ya, saya copot kalung dan cincin! Ganti baju dan jarik juga, ah!”
Yu Mimin kembali masuk rumah. Yu Mimin keluar lagi sudah berbaju lusuh, lengannya sobek-sobek. Jarik yang dikenakannya pun lusuh, bahkan ada tambalannya. Ia kenakan caping yang sudah bergelambir-gelambir tepinya.
“Nah, gitu, Yu!” ujar Jinem sambil mengacungkan jempolnya. Jinem memang sudah sering menerima bantuan pemerintah. Ia paham bagaimana harus tampil saat mengambil bantuan di kelurahan. Lain dengan Yu Mimin. Baru kali ini ia mendapat undangan mengambil bantuan di kelurahan. Itu buah kasak-kusuknya selama ini. Ia komplain kepada Ketua RT.
“Mengapa orang-orang yang berkecukupan masih juga mendapat bantuan sembako dan uang tunai dari pemerintah! Saya protes!” ujarnya di hadapan Ketua RT beberapa bulan lalu. Protesnya membawa hasil.
“Pinjam sepedamu, ya!” Yu Mimin menyerobot sepeda Jinem yang tersandar di gedeg rumahnya. Jinem melongo karena sebelum ia mengiyakannya, Yu Mimin sudah menyerobot sepeda GL pro, genjot langsung protol itu. Jinem khawatir kalau nanti terjadi apa-apa pada Yu Mimin. Sepeda itu dalam kondisi rusak berat. Rantainya sudah karatan dan sambungan, pelegnya sudah ngolet.
Yu Mimin nggenjot sepeda itu menuju kelurahan. Jalannya zik-zak. Di kelurahan, sudah banyak orang antre menunggu panggilan petugas.
“Mimin Diharjo!”
“Ya, saya!”
Yu Mimin maju, menerima sembako dan uang tunai dari petugas. Orang-orang heran. Mengapa bakul ratengan itu bisa mendapat bantuan, pikirnya.
“Bukankah dia orang berkecukupan?” bisik seseorang kepada sebelahnya. Yang dibisiki diam saja. Hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah menerima bantuan, Yu Mimin bergegas pulang. Sepeda dituntunnya sementara karena sulit dinaiki. Sembako ditaruh di boncengan. Amplop berisi uang tunai digembolnya. Setelah puluhan meter menjauhi kelurahan, Yu Mimin pun mencoba naik sepeda. Sepeda oleng. Yu Mimin jatuh terjerembab. Sepeda ambyar. Roda depan copot. Sembako berserakan. Yu Mimin mengerang kesakitan, lalu pingsan.
Orang-orang menolong Yu Mimin. Yu mimin dibawa ke Puskesmas dan menjalani rawat inap beberapa hari.
Kejadian yang dialami Yu Mimin pun viral. Kebanyakan orang, menertawakannya. Bahkan ada yang lebih keji.
“Kapok, kau, Yu Mimin!” kata beberapa orang, “orang kaya kok mau-maunya menerima bantuan sembako!”
Yu Mimin merasa sunggguh malu dan menyesal. Harga sembako dan uang bantuan yang diterima tidak seberapa menurut ukuran dirinya. Kalung dan cincin miliknya justru harus dijual untuk berobat dan memperbaiki sepeda Jinem. Mengandalkan uang bantuan yang diterimanya tersebut, jauh dari cukup.
“Nasib, nasib apes. Bantuan sembako tak seberapa, malah kalung dan cincin hanyut untuk nombok berobat, servis sepeda, badan remuk!” gerutunya di hadapan emak-emak pembeli di warungnya. Waktu itu hari perdana ia membuka warungnya setelah beberapa hari libur dalam rangka pemulihan diri.
Orang-orang menahan geli. Yang tidak tahan harus lari meninggalkan warung untuk menumpahkan tawanya.
“Besok akan mendapat bantuan lagi, Yu. Dua bulan lagi cair!”
“Gak sudi. Gak ngurus! Kapok!”
Tariak Yu Mimin di depan kerumunan emak-emak. Tawa emak-emak pun meledak.
Omah Geguritan, September 2024
